Alamat : Jln Semin-Wonogiri Km 5, Rejosari, Semin, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Post 55854 e mail: sd_ngadipiro@yahoo.com

SD NGADIPIRO BUTUH KEPEDULIAN

Lokasi strategis dijalur propinsi, 100 Km dari pusat kota Yogyakarta’ dalam wilayah perbatasan Wonogiri-Gunungkidul. Sekolah ini menempati areal tanah 0.2625 Ha. Papan besar menandakan keinginan sekolah ini ingin berkembang dan banyak manfaat. Dua tahun berjalan dengan semangat yang ada, di dorong rasa prihatin kondisi sekolah yang darurat pakai.

Kepala sekolah baru dan termuda untuk kecamatan Semin waktu itu, meratapi kondisi sekolah yang tak tersentuh penanganan yang serius, sehingga terjadi keadaan yang dilematis. Layak dalam kategori sekolah tertinggal. Bisa dibayangkan, beberapa bangunan roboh, sekolah tanpa WC, bumbungan rontok digelar karpet terbentang bandul kawat dan batu, mebilair tak lagi berfungsi, alat peraga berserakan, kumbang berumah nyaman.

Akar masalah dicari sebab musabab, tak ada kepedulian serius, Sekolah transit pensiun, egoisme yang tinggi, bekerja menghitung jam kerja, komite belum guna, sekolah tanpa nafas. Sepi,

Sekolah tanpa media, ketik manual tak ada, tipe recorder tak terdengar, apalagi komputer. Siapa salah? Tidak ada jawabnya. Hanya karena tidak ada kepedulian bersama.

Berat dan berat, bagaimana kondisi demikian bisa berubah? Kalau boleh pinjam istilahnya para pakar pendidikan, langkah yang tepat “ Kalau menginginkan hasil yang berbeda harus berani berbuat yang berbeda” itu yang meng ilhami Kepala Sekolah .

Apa yang dilakukan? semua tertuang dalam best practice SD Ngadipiro

Nilai-nilai Dasar Pendidikan Karakter Bangsa

Selasa, 18 Oktober 2011

Belakangan ini kita dibuat menangis dengan hampir runtuhnya karakter bangsa Indonesia. Mulai dari kasus korupsi yang sulit diberantas, kurang pekanya generasi muda terhadap lingkungan sekitar, sampai masalah kediplinan yang semakin payah. Sebagai seorang pendidik, tentu penulis tak akan berpangku tangan saja menghadapi kenyataan ini. Perlu kiranya kita menyatukan langkah untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar pendidikan karakter bangsa.

Menurut penulis, ada 16 nilai-nilai Dasar Pendidikan Karakter bangsa yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan di sekolah-sekolah kita. Ke-16 nilai dasar itu dapat diintegrasikan dalam berbagai kegiatan akademik dan kesiswaan. Dari sanalah kita dapat melakukan pembinaan peserta didik.

Nilai-nilai dasar pendidikan karakter yang harus diajarkan adalah:

•1. Bertakwa (religious)

Para guru harus mampu mengarahkan anak didiknya menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mampu melaksanakan perintah-Nya, dan mampu pula menjauhkan segala larangan-Nya. Orang yang bertakwa akan sadar-sesadarnya bahwa dirinya hanya hamba Tuhan yang harus bertanggungjawab dengan apa yang telah dilakukannya di dunia. Kegiatan seperti tadarus dan sholat berjamaah adalah merupakan contoh dari kegiatan meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik.

•2. Bertanggung jawab (responsible)

Para guru harus mampu mengajak para peserta didiknya untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab. Mampu mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya dan berani menanggung segala resiko dari apa yang telah diperbuatnya. Rasa tanggung jawab ini harus ada dalam diri para peserta didik kita. Kegiatan seperti pentas seni adalah merupakan salah satu bentuk dimana siswa atau peserta didik diberi tanggung jawab dalam mengelola sebuah kegiatan seni.

•3. Berdisiplin (dicipline)

Para guru harus mampu menamkan disiplin yang tinggi kepada para peserta didiknya. Kedisiplinan harus dimulai pada saat masuk sekolah. Budaya tepat waktu harus ditegakkan. Siapa yang terlambat datang ke sekolah harus terkena sanksi atau hukuman sesuai dengan peraturan tata tertib yang berlakuk di sekolah. Sioswa harus diajarkan disiplin, dengan demikian dia kan terbiasa disiplin dalam kehidupannya. Contoh yang paling mudaha adalah tepat waktu. Siswa harus dididik untuk mampu tepat waktu.

•4. Jujur (honest)

Kejujuran saat ini merupakan hal yang langka. Para guru harus mampu memberikan contoh kepada para peserta didiknya untuk mampu berlaku jujur. Ketika jujur diajarkan di sekolah-sekolah kita, maka para peserta didik tak akan berani berbohong karena telah terbiasa jujur. Kebiasaan jujur ini jelas harus menjadi fokus utama dalam pendidikan di sekolah. Sebab kejujuran telah menjadi barang langka di negeri ini. Timbulnya korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah akibat dari karakter jujur yang kurang terpelihara dengan baik.

•5. Sopan (polite)

Mampu berperilaku sopan adalah dambaan setiap insan. Dengan berlaku sopan orang lain akan segan kepada kita. Karakter sopan ini harus dilatihkan kepada peserta didik, dan dicontohkan bagaimana cara berlaku sopan kepada orang lain. Terutama kepada mereka yang telah lebih tua daripadanya. Tentu karakter kesopanan harus diperlihatkan dan dijunjung tinggi. Seringkali kita melihat karkater anak sekolahan yang kurang sopan. Baik dalam berbicara mamupun bertindak. Hal inilah yang harus kita rubah dalam pendidikan karakter bangsa.

•6. Peduli (care)

Peserta didik harus dilatih untuk peduli kepada sesama. Belajar melakukan empati kepada orang lain dengan rasa kepedulian yang tinggi. Ketika kita mau peduli, maka saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan akan terbantu. Di situlah akhirnya jiwa kepedulian kita teruji. Banyaknya musibah yang silih berganti di negeri ini, baik musibah bencana alam maupun bencana lainnya harus membuat kita semakin peduli dengan bangsa sendiri.

•7. Kerja keras (Hard work)

Peserta didik harus dilatih untuk mampu bekerja keras. Bukan hanya mampu bekerja keras, tetapi juga mampu bekerja cerdas, ikhlas, dan tuntas. Dengan begitu kerja keras yang dilakukannya akan bernilai ibadah di mata Tuhan pemilik langit dan bumi. Orang yang senang bekerja keras pastilah akan menuai kesuksesan dari apa yang telah dikerjakannya. Orang yang bekerja keras pasti mampu meujudkan impiannya menjadi kenyataan.

•8. Sikap yang baik (good attitude)

Peserta didik harus memiliki sikap yang baik. Dengan sikap yang baik akan terlihat karakter dari peserta didik tersebut. Sikap yang baik kepada orang lain harus dicontohkan oleh guru kepada para peserta didiknya. Dengan begitu orang lain akan menaruh hormat kepadanya karena sikapnya yang baik. Perilaku orang dapat dilihat dari sikap baik yang dimunculkannya. Oleh karenanya sikap yang baik harus diajarkan para guru dalam pendidikan karakter di sekolah.

•9. Toleransi (tolerate)

Peserta didik harus dilatih agar mampu bertoleransi dengan baik kepada orang lain. Toleransi harus dipupuk sejak dini, apalagi kepada hal-hal yang bernuansa Suku, agama, Ras, dan antar golongan (SARA). Perlu tolerasi yang tinggi agar mampu memahami kalau kita berbeda tetapi hakekatnya tetap satu juga. Toleransi antar umat beragama adalah salah satu bentuk toleransi yang paling jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

•10. Kreatif (Creative)

Peserta didik harus diajarkan agar mampu kreatif. Dengan begitu dia telah terbiasa menciptakan sesuatu yang baru. Guru kreatif akan menghasilkan peserta didik yang kreatif pula. Ajarkan peserta didik kita agar mampu kreatif dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Anak kreatif tidak lahir begitu saja. Dia lahir dari proses pendidikan yang berkelanjutan.

•11. Mandiri (independent)

Anak yang terbiasa mandiri biasanya akan jauh lebih berhasil hidupnya daripada anak yang kurang mandiri. Mandiri bukan hanya mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tetapi juga mampu membawa dirinya untuk tidak bergantung penuh kepada orang lain. Kemandirian harus ditanamkan kepada para peserta didik kita bila ingin anak menjadi mandiri.

•12. Rasa Ingin Tahu (curiosty)

Setiap anak pasti memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tentu sebagai guru kita dituntut untuk mampu mengarahkan rasa ingin tahu mereka kearah hal-hal yang positif seperti rasa ingin tahu mereka tentang bumi dan antariksa yang ilmunya terus berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi. Bila peserta didik memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, amak itu adalah modal dasar untuk menjadi seorang ilmuwan muda dan kaya. Rasa ingin tahu ini harus terus dimotivasi agar para peserta didik kita mampu juga meneliti di usia remaja.

•13. Semangat Kebangsaan (Nationality Spirit)

Para peserta didik harus didorong memiliki semangat kebangsaan. Dengan begitu akan ada rasa bangga kepada bangsanya sendiri. Contoh yang paling mudah dari semangat kebangsaan adalah sepakbola. Dengan permainan sepakbola, para pemain dan penonton dituntut harus memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Apalagi bila kita bermain di negeri orang lain.

•14. Menghargai (Respect)

Peserta didik harus mampu menghargai hasil karya orang lain yang dilihatnya. Dengan begitu ada penghargaan yang diberikan olehnya kepada orang lain. Saling menghargai merupakan cerminan budaya bangsa yang harus dilestarikan secara turuh temurun. Mengharagai pendapat orang lain adalah salah satu contoh dari karakter saling menghargai sesama.

•15. Bersahabat (Friendly)

Ketika peserta didik sudah terbiasa bersahabat, maka akan terasalah pentingnya sebuah persahabatan. Bersahabat adalah karakter penting yang harus dimiliki oleh para peserta didik. Kita harus memupuk rasa persaudaraan yang tinggi. Bila kita saling bersahabat, maka kita akan semakin dekat dan akrab. Dengan begitu akan semakin dekatlah hati kita masing-masing. Persahabatan bagai kepompong yang akan mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Sungguh indahnya sebuah persahabatan.

•16. Cinta damai (Peace Ful)

Peserta didik harus cintai damai. Cinta mencintai antar sesama anak manusia. Kita semua bersaudara dan tidak selayaknya kita saling bertengkar. Kita cinta damai, tepai kita pun cinta kemerdekaan. Siapa saja bangsa yang mengusik kemerdekaan kita, maka kita akan melawannya dengan gagah perkasa karena kita lebih mencintai bangsa sendiri.

Demikianlah nilai-nilai dasar pendidikan karakter bangsa yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah kita. Semoga kita semua dapat menyiapkan para generasi penerus bangsa menjadi calon pemimpin masa depan yang memiliki karakter yang penulis jabarkan di atas serta mempunyai kemampuan intektual yang tinggi. Kita pun berharap akan muncul pemimpin masa depan yang berkarakter, berintegrasi yang tinggi dan cerdas dalam melihat perkembangan sejarah bangsa.

sumber:
http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/06/nilai-nilai-dasar-pendidikan-karakter-bangsa/
http://www.wijayalabs.com/
BACA SELANJUTNYA - Nilai-nilai Dasar Pendidikan Karakter Bangsa

OPSI 2009 Tumbuhkan Budaya Keilmuan

Rabu, 18 November 2009

Ilmu pengetahuan berkembang salah satunya adalah dari tumbuhnya rasa penasaran intelektual (intelectual curiosity). Kegiatan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2009 merupakan bagian dari intelektual curiosity. Penelitian hendaknya dijadikan tradisi untuk memberikan kemanfaatan bagi umat manusia.

"Lomba seperti ini bukan sekedar menampilkan hasil karya dari adik - adik sekalian, tetapi yang lebih mahal daripada itu adalah menguji logika - logika yang adik - adik kembangkan. Kemudian prosedur - prosedur yang adik tuangkan dan semuanya itu bagian dari kaidah keilmuan, kaidah pengembangan, dan ujung - ujungnya kita berharap tumbuh yang namanya budaya keilmuan itu," kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh kepada para peserta OPSI 2009 di Plaza Depdiknas, Jakarta, Rabu (18/11/2009) .

Mendiknas meminta agar dengan penelitian akan mempersulit persoalan, tetapi menjawab persoalan itu. Orientasinya adalah pada kemanfaatan. "Jangan sekedar penelitian untuk penelitian. Suasana atmosfer ini menjadi atmosfer yang sangat bagus untuk menumbuhkan prinsip - prinsip dan tradisi - tradisi keilmuan," katanya saat membuka OPSI 2009.

Pada kegiatan yang berlangsung mulai 16-20 November 2009 ini para peserta akan melakukan gelar poster dan pameran hasil penelitian di masing - masing stand pameran yang disediakan panitia. Selanjutnya, para peserta akan mempresentasikan hasil penelitian mereka pada dewan juri melalui wawancara di lokasi pameran. Penilaian mencakup makalah terbaik, display terbaik, dan interaksi terbaik. Adapun bidang - bidang yang diteliti meliputi bidang Ekologi yakni, Kimia, Lingkungan, dan Biologi dan bidang Sains yakni, Fisika, Matematika, dan Komputer/Informatika.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto melaporkan, OPSI diselenggarakan bertujuan untuk menjaring siswa yang memiliki bakat dan kemampuan dalam bidang penelitian, menumbuhkembangkan budaya meneliti di kalangan siswa SMA, memotivasi siswa SMA untuk berkreasi dalam berbagai bidang ilmu sesuai minat dan bakatnya. "Pada akhirnya mendapatkan hasil penelitian yang orisinal, berkualitas, dan kompetitif," katanya.

Suyanto mengatakan, OPSI merupakan perpaduan konsep olimpiade penelitian internasional baik yang diselenggarakan oleh PASIAD Indonesia maupun oleh International Conference of Young Scientiest yang lebih dikenal dengan ICYS. Dia menyebutkan, pada 2009 sebanyak 89 naskah penelitian terseleksi masuk ke babak poster dan pameran hasil penelitian. "Naskah penelitian masing - masing terdiri atas 58 naskah untuk kelompok ekologi dan 31 naskah untuk kelompok sains," katanya.***


Sumber: Pers Depdiknas
BACA SELANJUTNYA - OPSI 2009 Tumbuhkan Budaya Keilmuan

Siswa Berprestasi Berhak Mendapat Penghargaan

Selasa, 01 September 2009

Siswa yang berprestasi dalam International Junior Science Olympiad atau IJSO dijanjikan memperoleh jaminan meneruskan pendidikan dengan berbagai fasilitas. Selain berupa asuransi pendidikan, masuk SMA pilihan tanpa tes, serta beasiswa.
Dalam IJSO III di Sao Paolo, Brasil, pada 3-12 Desember 2006, tim Indonesia yang terdiri dari 6 pelajar SMP dan 1 observer berhasil meraih 2 medali emas, 3 perak, dan 1 perunggu. Dibandingkan dengan dua IJSO terdahulu, ketika Indonesia menjadi tuan rumah, prestasi kali ini melorot tajam.

Pada IJSO 2004 di Jakarta, Indonesia mengukuhkan diri sebagai juara umum dengan 5 medali emas dan 4 perak, serta menyabet gelar The Best Experimental Winner dan Absolute Winner. Pada IJSO 2005 di Yogyakarta, prestasi itu terulang lagi. Indonesia mendulang 6 emas, 4 perak, dan 2 perunggu. Selain itu, tim Indonesia juga menyabet gelar The Best Theoretical Winner dan Absolute Winner.

Sementara pada IJSO 2006 di Sao Paolo, dengan 2 emas, 3 perak dan 1 perunggu, Indonesia ada di urutan keempat. Juara pertama IJSO 2006 diraih Korea Selatan, diikuti Taiwan dan Rusia.

Kendati demikian, dalam jumpa pers penyambutan tim Indonesia yang baru pulang dari IJSO III di Brasil, Jumat (15/12), Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto menegaskan bahwa tidak ada penurunan prestasi tim Indonesia dalam IJSO. Alasannya, kalau dalam IJSO tahun sebelumnya Indonesia bisa meraih enam medali emas, itu karena tim yang dikirim jumlahnya juga lebih banyak, yakni hingga mencapai 12 orang.

Dapat penghargaan

Pada IJSO 2006, 2 medali emas Indonesia dipersembahkan oleh Johannes Kevin Nangoi (SMP Pangudi Luhur) dan Fernaldo Richtia Winnerdy (SMP Kanisius). Medali perak diraih Aga Krisnanda (SMP 1 Purwokerto), Kevin Soedyatmiko (SMPK BPK Penabur IV Jakarta), dan Ivana Polim (SMP Sutomo Medan). Adapun perunggu diperoleh Muhammad Rais Bahtiar (SMP 1 Karanganyar). Tim dipimpin Yohanes Surya, didampingi Agus Danapermana, Ahmad Ridwan, dan Ridla Bakri.

"Para peraih medali emas akan mendapatkan asuransi pendidikan senilai Rp 40 juta, peraih perak Rp 30 juta, dan peraih perunggu Rp 25 juta," kata Suyanto.

Para murid berprestasi tersebut sudah selayaknya mendapatkan penghargaan dan dapat meneruskan pendidikan tanpa hambatan. Karena itu, mereka juga dijanjikan dapat memilih SMA tanpa tes. Untuk pembiayaan, mereka akan mendapatkan beasiswa dari pemerintah.

Suyanto mengatakan, pemerintah telah membuat mekanisme untuk pembinaan anak-anak berprestasi. Dia berharap berbagai perusahaan melalui program tanggung jawab sosial korporat juga dapat ikut berperan untuk mendukung pembinaan anak- anak berprestasi itu.

Agus Danapermana selaku pembina IJSO mengungkapkan, anggota tim Indonesia adalah hasil seleksi dari 100.000 siswa dari 100 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Sebagian lagi merupakan para peraih medali dari Olimpiade Sains Nasional 2005.

"Seleksinya cukup ketat sehingga mereka ini merupakan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia," katanya. Setelah seleksi selama sebulan, para peserta dilatih secara khusus atau dikarantina selama delapan bulan.

Johannes Kevin mengatakan, ia telah siap ketika harus menghadapi olimpiade itu. "Soalnya tidak terlalu sulit, tapi tidak gampang juga sih. Sebab sudah ada pelatihan sebelumnya," ujarnya.

Fernaldo mengungkapkan pendapat serupa. "Kami sudah dilatih, jadinya percaya diri. Tetapi tim dari negara lain juga sebagian berlatih keras. Selisih nilainya tipis," katanya. (ine)

sumber :
http://ditptksd.go.id
BACA SELANJUTNYA - Siswa Berprestasi Berhak Mendapat Penghargaan

Guru dan Makna Profesionalisme

Oleh Erick Hilaluddin

Oemar Bakri... Oemar Bakri... pegawai negeri Oemar Bakri... Oemar Bakri... 40 tahun mengabdi Jadi guru jujur berbakti memang makan hati Oemar Bakri... Oemar Bakri... banyak ciptakan menteri Oemar Bakri... profesor dokter insinyur pun jadi Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Itulah sepenggal lirik lagu "Oemar Bakri" yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh musisi legendaris Iwan Fals pada tahun 1980-an. Lagu tersebut bercerita tentang seorang guru tua nan miskin bernama Oemar Bakri

Ia sudah puluhan tahun mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan dan telah membidani lahirnya para pejabat negeri ini. Namun, apa yang dilakukan ternyata tidak berbanding lurus dengan apa yang didapatkan. Begitulah kira-kira tafsir sederhana saya terhadap lagu tersebut. Ada dua hal yang menarik untuk kita cermati dari lagu "Oemar Bakri" itu. Pertama, Iwan Fals ingin memberikan gambaran obyektif tentang profesi guru saat itu. Guru merupakan profesi yang tidak elite, tidak bonafide, bergaji pas-pasan, dan tidak ada ruang untuk kemajuan. Gambaran Iwan Fals tentang kondisi guru mewakili anggapan dominan banyak orang saat itu. Tidak mengherankan, jarang ditemukan anak bercita-cita menjadi guru. Ketika anak-anak ditanya apa cita-citanya, jawaban mereka sudah bisa ditebak: ingin menjadi dokter, insinyur, pilot, presiden, dan sebagainya. Jarang sekali anak menjawab ingin menjadi guru.

Kedua, sang musisi ingin menyentil pemerintah yang saat itu kurang peduli terhadap pendidikan, khususnya nasib guru. Kita akan selalu ingat salah satu stigma Orde Baru yang sangat menghegemoni, yaitu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Perkataan itu meninabobokan para guru untuk betah hidup dalam ketidaksejahteraan. Perkataan tersebut memaksa mereka puas dengan apa yang selama ini didapatkan.

Perlakuan dan penghargaan terhadap guru di Indonesia berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Jepang. Setelah Hiroshima dan Nagasaki rata dengan tanah akibat dibom sekutu, hal pertama yang ditanyakan kaisar kepada perdana menterinya adalah berapa guru yang masih hidup. Sang kaisar pun meminta guru-guru yang tersisa untuk dijaga, dipelihara, diberi makan cukup, dan diberi kesejahteraan yang memadai karena sang kaisar beranggapan bahwa guru adalah pijakan arah bangsa. Dari dulu hingga sekarang posisi guru di Jepang amat terhormat. Tidak mengherankan, negara itu maju pesat karena menjadikan guru sebagai arah pijakan bangsa.

Sekarang kondisi guru yang dulu memprihatinkan mulai sedikit berubah. Perhatian pemerintah terhadap pendidikan, khususnya guru, mulai tampak, misalnya dengan lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen pada 2005. Undang-undang itu bertujuan meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi walaupun pada akhirnya tidak sedikit guru yang terjebak pada penafsiran keliru terhadap profesionalisme dengan pemberian sejumlah uang dalam kurun waktu tertentu.

Penafsiran keliru tersebut dapat menjerumuskan para guru pada pengerdilan akan makna profesionalisme, bahkan membunuh mentalitas untuk mengabdi dan melayani secara tulus. Dalam pendidikan kita, antara profesionalisme dan apresiasi kerja telah rancu. Celakanya, profesionalisme telah dijadikan sama dengan apresiasi kerja, yakni pemberian penghargaan kepada guru yang lulus uji sertifikasi dengan sejumlah uang sebagai tanda bahwa ia telah menjadi guru profesional.

Hargai pilihan profesi

Terlepas dari pro dan kontra tentang munculnya program sertifikasi untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru, usaha itu perlu kita apresiasi dengan berusaha meningkatkan kompetensi dan kinerja sehingga bisa memberikan layanan pendidikan terbaik terhadap anak didik. Usaha pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru akan menjadi absurd seandainya guru, baik sebagai pribadi maupun komunitas, tidak melakukan perbaikan dari dalam diri.

Salah satu cara meningkatkan kompetensi adalah guru keinginan untuk terus belajar setiap waktu. Guru belajar memahami kondisi anak yang beragam untuk kemudian mencari metode pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar anak. Jadi, keragaman anak sebagai kodrat bisa terakomodasi dan terfasilitasi. Guru yang tidak mau belajar mengikuti perkembangan anak dan metode pembelajaran kontemporer merupakan lonceng kematian bagi dunia pendidikan.

Menjadi guru bukan sekadar rutinitas harian yang nyaris tanpa daya kejut, yaitu berangkat pagi pulang siang atau sore dan seterusnya atau datang ke sekolah, mengajar, memberikan ulangan, koreksi, remidi, membagikan hasil ulangan, dan seterusnya. Melakukan hal yang sama tetapi mengharapkan perubahan adalah kekonyolan dalam proses pendidikan.

Cara pandang yang lebih positif terhadap profesi yang sedang digeluti merupakan keniscayaan. Bagaimana mungkin orang akan menghargai profesi guru kalau guru sendiri tidak menghargainya? Kita semua tahu bahwa sikap dan cara pandang positif bisa berpengaruh besar terhadap kesuksesan dan kebahagiaan hidup seseorang.

Menurut William James, kita bisa mengubah seluruh hidup kita hanya dengan mengubah sikap dan cara pandang kita. Separah apa pun gambaran dan persepsi orang tentang guru, tetapi kalau sikap dan cara pandang guru selalu positif, mereka akan menjalani profesi tersebut dengan penuh kebahagiaan.

Saya teringat Thomas Edison yang mengalami seribu kali kegagalan dalam membuat bola lampu. Suatu hari, Edison ditanya seorang wartawan, "Tuan Edison, bagaimana rasanya gagal berkali-kali?" Dengan tenang Edison menjawab, "Seribu kali kegagalan saya dalam membuat bola lampu membuat saya tahu seribu cara yang tidak bisa dipakai untuk membuat bola lampu." Edison adalah satu dari sedikit orang yang senantiasa menjaga sikap dan cara pandang positifnya dalam melihat sesuatu.

ERICK HILALUDDIN Guru SD Hikmah Teladan, Cimindi, Cimahi
sumber :
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/20/11065922/guru.dan.makna.profesionalisme
BACA SELANJUTNYA - Guru dan Makna Profesionalisme

Sekolah Gratis

Rabu, 06 Mei 2009


Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat.

Saat ini SD Ngadipiro mulai melaksanakan program MANAJEMEN SEKOLAH GRATIS, meskipun masih banyak kendala-kendala yang harus diselesaikan dalam pelaksanaan di lapangan.
BACA SELANJUTNYA - Sekolah Gratis

Tiga Isu Pendidikan Kritis

Minggu, 12 April 2009

Oleh Amich Alhumami
Peneliti Sosial; Bekerja di Direktorat Agama dan Pendidikan, Bappenas, Jakarta

Sepanjang masa kampanye pemilu presiden, pendidikan menjadi salah satu tema paling digemari para calon presiden dalam orasi politik. Sayang, mereka tidak menyentuh problem mendasar pendidikan, bahkan pemahaman mereka atas isu pendidikan terkesan kurang mendalam. Mereka terjebak jargon-jargon populis dan retorika politik tanpa substansi.

Padahal, seyogianya mereka mendiskusikan isu-isu mutakhir yang lebih fundamental. Banyak isu kritis yang patut menjadi tema kajian. Dalam artikel ini hanya disajikan tiga isu sentral: i) peningkatan mutu, ii) pemerataan akses, dan iii) efisiensi anggaran.Selengkapnya . . .

source :
http://www.indonesiaontime.com/humaniora/pendidikan/17-pendidikan/989-tiga-isu-pendidikan-kritis.html
BACA SELANJUTNYA - Tiga Isu Pendidikan Kritis

Aksara Jawa Dihidupkan Lagi

Senin, 30 Maret 2009

Nama Kelas Sebaiknya Gunakan Tokoh Wayang

Yogyakarta, Kompas - Akhirnya pelestarian aksara Jawa memperoleh perhatian yang nyata. Aksara Jawa segera digunakan pada kartu tanda pengenal pegawai instansi pemerintah. Langkah selanjutnya akan diperluas pada lembaga pendidikan.

Untuk tahap pertama, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DI Yogyakarta yang akan menerapkan bagi para karyawannya. Sekolah pun diimbau untuk memberi nama beraksara Jawa pada ruang- ruang kelas.

Saat ini, kartu pengenal bertuliskan aksara Jawa tersebut telah dalam proses pembuatan. Berbeda dengan tanda pengenal lama, kartu tanda pengenal yang baru tersebut nantinya juga akan berisi nama dan posisi pegawai dalam aksara Jawa, selain keterangan dalam huruf Latin. Hal ini merupakan lanjutan dari penggunaan aksara Jawa di semua ruangan di kantor Dikpora DIY.

"Aturan wajib menggunakan kartu nama ini akan segera menyusul," kata Kepala Dikpora DIY Suwarsih Madya di Yogyakarta, Minggu (29/3). Selain itu, tutur Suwarsih, meskipun belum ada instruksi resmi, imbauan untuk memberi nama ruangan kelas dalam bahasa Jawa pun telah beberapa kali pula disampaikan kepada sejumlah kepala sekolah di DIY. Program penamaan kelas dengan aksara Jawa ini rencananya akan diberlakukan di setiap tingkat pendidikan.

Selanjutnya, Dikpora berencana menerbitkan sejenis buku panduan agar sekolah lebih mudah melaksanakannya. "Nama-nama kelas bisa menggunakan nama tokoh-tokoh wayang, nama binatang atau bunga dalam bahasa Jawa. Hal seperti ini malah sudah banyak dilakukan di hotel- hotel," tutur Suwarsih.

Kulon Progo pelopor

Pendidikan budaya ini menurut rencana akan dilanjutkan dengan hari berbahasa Jawa di sekolah-sekolah di seluruh wilayah kota dan kabupaten. Gagasan yang telah muncul beberapa waktu lalu tersebut hingga saat ini masih tertunda pelaksanaannya. Sampai sekarang, baru Kulon Progo saja yang telah melaksanakan program berbahasa Jawa ini.

Suwarsih mengatakan penggalakan penggunaan aksara Jawa dan pendidikan budaya ini merupakan bagian dari upaya untuk menguatkan jati diri warga Yogyakarta. Dengan dibiasakannya penggunaan unsur- unsur budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan akan menguatkan penanaman budaya pada masyarakat di Yogyakarta. (IRE)

dicopy dari :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/30/11312574/aksara.jawa.dihidupkan.lagi
BACA SELANJUTNYA - Aksara Jawa Dihidupkan Lagi

Jutaan Siswa Indonesia Pertahun Drop Out, Tanggung Jawab Siapa ?

Rabu, 04 Februari 2009

Memang akhirnya data akan berbicara dengan banyak makna, tergantung kita menerjemahkan dan menganalisisinya, ada salah satu rekan kami dimilis jardiknas@yahoogroups.com yang memberikan analisis cukup mengejutkan dari kondisi siswa kita, sebagai bahan referensi anda bisa membaca di UR http://nisn.diknas.go.id/cont/data_statistik/index.php

berikut kutipannya :”

“Prihatin Pak, tapi ya kalau dirunut-runut memang sudah dirancang banyak pengangguran di negara ini entah disengaja atau pura-pura tidak tahu :D

Dimana SDM-SDM Indonesia entah disengaja atau pura-pura tidak tahu ari penduduk di usia pendidikan sudah banyak yang kena “PHK” lho (Baca: PHK = Putus Hubungan Kesekolah) :D , Coba cek di situs http://nisn.jardiknas.org milik Depdiknas.

Di situs tersebut saat ini (tercatat: 12/01/2009 pk.09:10:24) telah tercantum total hampir 40 juta siswa nasional. Lebih rinci lagi di
http://nisn.jardiknas.org/cont/data_statistik/rekap_total.php

Jumlah siswa SD = 26,7 juta.
Jumlah siswa SMP = 8,2 juta.
Jumlah siswa SMA + SMK = 4.7 juta.

Perhitungan rata2:
Rata-rata siswa SD per angkatan = 26,7 juta / 6 = 4.45 juta.
Rata-rata siswa SMP per angkatan = 8,2 juta / 3 = 2.73 juta.
Rata-rata siswa SMA+SMK per angkatan = 4,7 juta / 3 = 1.56 juta.

Analisa:

1. Setiap tahun akan “diproduksi/PHK” rata-rata jumlah siswa yang tidak melanjutkan jenjang dari SD ke SMP sebesar: 4.45 - 2.73 = 1.72 juta (38% dari tiap angkatan jadi “PHK”).

2. Setiap tahun akan “diproduksi” rata-rata jumlah siswa yang tidak melanjutkan jenjang dari SMP ke SMA/SMK sebesar: 2.73 - 1.56 = 1.17 juta (42% dari tiap angkatan jadi “PHK”).

Dengan demikian rata-rata total penduduk usia sekolah yang tidak mencapai jenjang SMA/SMK tiap tahunnya sebesar: 1.72 + 1.17 = 2.89 juta !!,

Dari data jika kondisi ini konsisten maka dalam 5 tahun saja siswa “PHK” sudah sebanyak hampir 15 juta orang!! Sayang di situs tidak bisa dianalisa data untuk lulusan SMA/SMK yang tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Bagaimana memperbaikinya ya???????, Ini belum bicara “kualitas pendidikannya” lho… :D :D , saya pun berfikir enak aja ya … kalau memang “para pemikir/pemegang amanah rakyat” tidak mampu mbok ya mundur saja deh … :D

Kesimpulan ya tidak aneh bukan, banyak pengangguran di negara kita
:, Karena dari usia pendidikan penduduk bangsa ini telah banyak yang
kena “PHK” alias “Putus Hubungan Kesekolah” :D

Solusinya ???
V4V

===========================

Jadi Ada PHK ” putus hubungan kesekolah”

ini tanggung Jawab Siapa ?

dicopy dari :

http://nasirdbjpr.wordpress.com/2009/02/04/jutaan-siswa-indonesia-pertahun-drop-out-tanggung-jawab-siapa/

BACA SELANJUTNYA - Jutaan Siswa Indonesia Pertahun Drop Out, Tanggung Jawab Siapa ?

Nasionalisme dan Kemandirian Bangsa yang Hilang

Minggu, 25 Januari 2009

16 - 20 Juli kemarin di International University Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran, telah berlangsung sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh anak-anak bangsa yang menuntut ilmu di negeri-negeri Timur Tengah dan sekitarnya. Mereka menggabungkan diri dalam wadah organisasi yang mereka namakan Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia (BKPPI) Se-Timur Tengah dan sekitarnya. Konferensi Internasional yang ke-6 itu diselingi forum diskusi dengan mengangkat tema, "Membangun Kemandirian Bangsa Menuju Indonesia yang Berkeadilan". Sebenarnya tema ini sangat menggelikan, setelah 62 tahun merdeka dan berhasil membentuk negara bangsa yang para pendahulu kita menyepakatinya sebagai negara kesatuan, apakah kita perlu untuk membicarakan kemandirian bangsa, yang sesungguhnya dengan dibacakannya proklamasi kemerdekaan bukankah itu sebagai petanda kita telah merdeka dan berdaulat dan dengan sendirinya telah memiliki kemandirian ?. Namun kita harus membicangkannya, sebab tak ada yang memungkirinya bahwa sejak lama kita telah kehilangan kemandirian nasional, kepercayaan diri sudah luntur, kita bahkan tidak lagi merawat kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik dan kedaulatan hukum kita. Marilah kita lihat realita yang terjadi. Negara kita yang kaya akan minyak telah menjadi importir neto minyak untuk kebutuhan bangsa kita. Negara yang dikaruniai dengan hutan yang demikian luas dan lebatnya sehingga menjadikannya negara produsen eksportir kayu terbesar di dunia dihadapkan pada hutan-hutan yang gundul dan dana reboisasi yang praktis nihil karena dikorup. Walaupun telah gundul, masih saja terjadi penebangan liar yangdiselundupkan ke luar negeri dengan nilai sekitar 2 milyar dollar AS. Indonesiapun menjadi negara yang memiliki kerusakan lingkungan yang paling parah. Sumber daya mineral kita dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab dengan manfaat terbesar jatuh pada kontraktor asing dan kroni Indonesianya secara individual. Contoh yang paling menyayat hati, pertambangan emas paling besar di dunia, PT. Freeport melakukan praktik pertambangan secara ugal-ugalan tanpa pengawasan yang berarti dan masa kontraknya masih ada 30 tahun lagi. Rakyat yang adalah pemilik dari bumi, air dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya memperoleh manfaat yang sangat minimal (untuk tidak menyebutnya ala kadarnya). 50,5 % perbankan nasional kita dicengkeram orang asing, padahal itu adalah urat nadi perekonomian kita. Yang lebih menyayat hati, Indosat tahun 2004 telah berpindah tangan ke Singapura, akibatnya tidak ada satupun lalu lintas informasi dan komunikasi di negeri ini yang tidak diketahui Singapura. Ikan kita dicuri oleh kapal-kapal asing yang nilainya diperkirakan antara 3 sampai 4 milyar dollar AS. Hampir semua produk pertanian diimpor. Pasir kita dicuri dengan nilai yang minimal sekitar 3 milyar dollar AS. Republik Indonesia yang demikian besarnya dan sudah 62 tahun merdeka dibuat bertekuk lutut harus mensahkan UU Penanaman Modal Asing yang menetapkan perlakukan yang sama dengan pemodal dalam negeri dan pemodal asing memiliki hak guna bangunan dan tanah sampai 99 tahun. Pemerintah kita bangga dengan pembangunan yang dibiayai utang luar negeri melalui organisasi yang bernama IGGI/CGI yang penggunaannya diawasi oleh lembaga-lembaga internasional dan dimintai pertanggungjawaban bagaimana mereka mengurusi Indonesia. Karenanya pemerintah lebih merasa bertanggungjawab kepada kepada lembaga-lembaga donor tersebut dibanding kepada parlemennya sendiri. Utang dipicu terus tanpa kendali sebab 40% nya dikorupsi sehingga sudah lama pemerintah hanya mampu membayar cicilan utang pokok yang jatuh tempo dengan utang baru atau dengan cara gali lubangtutup lubang. Sementara ini dilakukan terus, sejak tahun 1999 kita sudah tidak mampu membayar cicilan pokok yang jatuh tempo. Maka dimintalah penjadwalan kembali. Hal yang sama diulangi di tahun 2000 dan lagi di tahun 2002 dan begitu seterusnya. Kali ini pembayaran bunganya juga sudah tidak sanggup dibayar sehingga juga harus ditunda pembayarannya. Jumlahnya ditambahkan pada utang pokok yang dengan sendirinya juga menggelembung yang mengandung kewajiban pembayaran bunga oleh pemerintah. Bank-bank kita digerogoti oleh para pemiliknya sendiri. Kita mengetahui bahwa paket bantuan dari IMF disertai dengan conditionalities yang harus dipenuhi oleh pemerintah Indonesi dan isinya demikian tidak masuk akal dan demikian menekan serta merugikannya. Kalau kita baca setiap LOI dan setiap Country Strategy Report serta setiap keikut sertaan lembaga-lembaga internasional dalam perumusan kebijakan pemerintah, kita tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa yang memerintah Indonesia sudah bukan pemerintah Indonesia sendiri. Jelas sekali bahwa kita sudah lama merdeka secara politik, tetapi sudah kehilangan kedaulatan dan kemandirian dalam mengatur diri sendiri. Kondisi ini sudah merupakan lingkaran setan yang disebabkan karena terjerumusnya pemerintah kita ke dalam lubang yang disebut jebakan utang atau debt trap. Kondisi dilematis yang kita hadapi sekarang adalah kehilangan kemandirian dalam merumuskan kebijakan. "Les to'a serbet", pepatah Perancis yang berarti sejarah selalu saja berulang, ya bangsa kita tidak pernah belajar dari sejarah masa lalunya. Di setiap pergantian pemimpin, selalu dikatakan bahwa kita kini telah merdeka!! Digambarkan seolah pemimpin sebelumnya adalah penjajah, penjarah dan perompak bagi bangsanya sendiri. Teramat sulit kita pahami kemerdekaan republik ini harus kita rebut berkali-kali, bahkan dari genggaman saudara sebangsa sendiri. Karena itu masalahnya menjadi sangat mendasar, apakah putera puteri terbaik bangsa kita yang bertahan untuk tidak menjual dirinya bertopang dagu dan berdiam diri saja ? Ketika bangsa Indonesia begitu mudahnya membebek, mengekor dan menjilat para penjajah modern yang menggunakan kapitalisme yang jahat dan perusahaan-perusahaan besar yang menjadi kaki tangannya, maka ini berarti pengkhianatan besar terhadap perjuangan dan patriotisme para pahlawan nasional. Kalau selama penjajahan yang tiga setengah abad lamanya itu kita dihadapkan pada kekuatan senjata kaum penjajah, yang kita hadapi sekarang bukanlah senjata, melainkan pikiran-pikiran yang membuat kita tidak dapat bergerak secara merdeka. Kita sesungguhnya belum merdeka 100% meskipun di atas kertas kita menyatakan itu. Buktinya, beranikah bangsa kita melanggar main stream thoughts dari masyarakat internasional ? Beranikah kita menghadapi embargo dengan segala konsekwensinya ? Kita telah dijajah lewat contract breuk yang ketika dilanggar negara ini harus dihukum dengan diisolasinya dari masyarakat internasional. Terus terang saja, dengan semua ini pemerintah drop popularitasnya di mata rakyat gara-gara tunduk sama kemauan super power. Kita tidak mungkin memperoleh kembali kemandirian kalau kita tidak berani melakukan terobosan yang inovatif dan kreatif (Kwik Kian Gie, 2002). Inovasi dan kreativitas memang tidak mudah. Untuk melakukan itu semuanya ada biayanya, ada resikonya dalam bentuk kesengsaraan sementara. Yang lebih menyedihkan, akan lahir para komprador dan kroni bangsa kita sendiri yang menghujat dan menakut-nakuti melalui penguasaan dan pengendalian pembentukan opini publik. Keintelektualan yang mereka dapat dari perasan keringat rakyat, mereka gunakan untuk melayani kepentingan kekuatan-kekuatan global ketimbang membela kepentingan rakyatnya sendiri. Dalam bidang ekonomi kelompok ini sangat kuat karena mereka berkesempatan membangun jaringan nasional maupun internasional. Membangun Nasionalisme dan Cinta Tanah AirHugo Chaves, Evo Morales, Ahmadi Nejad berhasil membangun kemandirian bangsa mereka dengan mengobarkan semangat nasionalisme. Sekarang, di negeri kita, masih adakah semangat nasionalisme itu ? kita kehilangan kebanggaan dengan bangsa sendiri. Penyakit inferior complex mengidap di jiwa-jiwa anak negeri kita yang mengakibatkan kita kehilangan kedaulatan diberbagai sisi kehidupan. Seruan persatuan dan kesatuan tidak pernah terdengar lagi, karena elit-elit negeri ini sendiri mencotohkan lain. Membangun semangat nasionalisme dan cinta tanah air sering dianggap sebagai doktrin yang kuno dan ketinggalan zaman. Coba saja kalau anda berani berceramah dan berpidato dengan menitip pesan, "Mari kita mencintai tanah air dan menggalang persatuan dan rasa nasionalisme!". Apa yang anda rasakan, anda akan minder sendiri dengan pesan itu. Namun menilik negara-negara lain, terutama Amerika yang selalu dijadikan sebagai simbol kemajuan apakah menganggap semangat nasionalisme sebagai doktrin yang ketinggalan jaman ?Presiden George W. Bush, baik dalam tutur katanya maupun dalam simbolisme-nya jelas seorang nasionalis sejati. Setiap hari dia menyematkan pin bendera Amerika Serikat pada dadanya, hal yang dilakukan oleh banyak dari para menterinya. Lebih dari itu, Bush menganjurkan supaya setiap orang Amerika setiap harinya menyematkan bendera Amerika di dadanya, dan hampir setiap department store menjualnya. Dan sejak tahun 1942 semua majalah di Amerika dianjurkan untuk memasang bendera Amerika pada cover-nya. Kata-katanya adalah : "July 1942 United we stand. In July 1942, America's magazine publishers joined together to inspire the nation by featuring the American flag on their covers. Be inspired." Dengan melihat para tokoh jagoan Amerika yang berpakaian warna bendera Amerika bukankah itu semangat nasionalisme ? Saya begitu merindukan Soekarno, gema pesannya kemana-mana, "Cinta tanah air bagian dari iman", meski berlebihan sampai beliau menyebutnya hadits, tapi itulah cara Soekarno untuk membangkitkan semangat nasionalisme rakyatnya. Mungkin saya kampungan, sebagaimana kebanyakan orang menilai pelajar dari Timur Tengah sulit diajak berpikir maju. Namun izinkanlah saya 'membakar' otak untuk membuat bangsa ini terlepas dari penjajahan dan tanpa membuat bangsa kita menjadi kuli di negaranya sendiri, yang meski 'mandi' pun harus melibatkan pihak lain. Wallahu 'alam. Qom, 22 Juli 2007 Pernah dimuat di Harian Fajar 25 Juli 2007

sumber :
http://abi-azzahra.blogspot.com/2008/01/nasionalisme-dan-kemandirian-bangsa.html
BACA SELANJUTNYA - Nasionalisme dan Kemandirian Bangsa yang Hilang

Prestasi Kepala Sekolah

Kamis, 01 Januari 2009

NO

MACAM KEGIATAN

PENYELENGGARA

TINGKAT

TAHUN

1

BEST PRESTICES KEPALA SEKOLAH

PMPTK

NASIONAL

2008

2

PEMILIHAN KEPALA SEKOLAH BERPRESTASI

DINAS PENDIDIKAN

PERINGKAT 6

2008

3

PESERTA SERTIFIKASI GURU

UNY

-

2008

4

SERTIFIKASI GURU 2007 (GURU)

UNY

LULUS

2007

5

PESERTA KTI PTK ON LINE

PMPTK

-

2007

6

PESERTA KULIAH S1 ON LINE (GURU)

UNY

-

2007

BACA SELANJUTNYA - Prestasi Kepala Sekolah

Didukung oleh :

Sekolah Pramugari

Federasi Panjat Tebing Indonesia Gunungkidul

  © Free Blogger Templates Columnus by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP